Kisah Kelam Mantan Kekasih Tzuyang: Dari Kekerasan, Pemerasan, hingga Akhir Tragis – Dunia hiburan digital Korea Selatan kembali diguncang oleh kisah memilukan yang menimpa salah satu streamer mukbang paling populer, Tzuyang. Di balik kesuksesan dan popularitasnya, tersimpan cerita kelam tentang hubungan masa lalu dengan mantan kekasih yang berujung pada kasus kekerasan, pemerasan, hingga tragedi yang mengejutkan publik. Artikel ini akan mengulas secara lengkap perjalanan kasus tersebut, dampaknya terhadap Tzuyang, serta bagaimana masyarakat menanggapi fenomena ini.
Profil Singkat Tzuyang
Tzuyang dikenal sebagai salah satu YouTuber mukbang paling berpengaruh di Korea Selatan. Dengan jutaan pengikut, ia berhasil memikat penonton lewat konten makan dalam porsi besar yang dikemas dengan gaya ramah dan penuh energi. Popularitasnya tidak hanya terbatas di Korea, tetapi juga merambah ke berbagai negara, termasuk Indonesia, di mana ia sempat membuat konten mukbang di warung lokal.
Namun, di balik layar, kehidupan pribadinya ternyata penuh tekanan. Kisah bonus new member tragis bersama mantan pacar yang juga pernah menjadi CEO perusahaannya membuka mata publik tentang sisi gelap industri hiburan digital.
Awal Hubungan dengan Mantan Pacar
Sebelum berkarier sebagai streamer, Tzuyang bertemu dengan seorang pria yang kemudian menjadi kekasih sekaligus CEO perusahaannya. Pada awalnya, hubungan mereka terlihat baik-baik saja. Sang pria memperlakukan Tzuyang dengan penuh perhatian, seolah menjadi sosok pendukung dalam perjalanan kariernya.
Namun, seiring berjalannya waktu, sikapnya berubah drastis. Ia mulai melakukan kekerasan fisik, bahkan menggunakan benda tumpul seperti payung untuk memukul Tzuyang. Situasi semakin memburuk ketika Tzuyang ingin mengakhiri hubungan. Sang mantan mengancam akan menyebarkan video intim yang direkam secara diam-diam tanpa izin, sebuah tindakan yang dikenal di Korea sebagai “molka”.
Pemaksaan dan Eksploitasi
Tidak berhenti di situ, mantan pacar Tzuyang memaksanya bekerja di sebuah pub. Ia harus melayani tamu secara langsung, menuangkan minuman, dan menghadapi tekanan sosial yang berat. Semua hasil kerja kerasnya dirampas, sementara ia terus mengalami kekerasan setiap kali mencoba berhenti.
Ketakutan akan ancaman yang bisa merusak reputasi dan keluarganya membuat Tzuyang mencari jalan lain. Ia akhirnya membuka saluran streaming, meski sempat ditentang oleh sang mantan. Ironisnya, ketika saluran tersebut berkembang pesat, mantan pacarnya mendirikan perusahaan dan memaksa Tzuyang menandatangani kontrak tidak adil, di mana 70 persen keuntungan iklan disedot untuk dirinya.
Selama bertahun-tahun, Tzuyang tidak menerima sepeser pun dari kontrak iklan yang ia jalani. Bahkan ketika publik sempat mengkritiknya karena dugaan iklan tersembunyi, situasi semakin memperburuk tekanan yang ia alami.
Ancaman dan Tekanan Berkelanjutan
Selama empat tahun, Tzuyang hidup dalam bayang-bayang ancaman. Ia bahkan sempat menawarkan seluruh asetnya agar sang mantan pergi, tetapi pria tersebut tetap mengganggu kehidupannya. Ia mendatangi rumah, mengancam staf, dan terus menekan Tzuyang melalui telepon.
Situasi ini akhirnya mendorong Tzuyang untuk mengambil langkah hukum. Ia mengajukan gugatan atas tuduhan penyerangan, ancaman, pemaksaan, pelecehan, hingga kekerasan seksual. Publik menaruh harapan besar bahwa kasus ini akan menjadi titik balik bagi Tzuyang.
Gugatan Hukum dan Akhir Tragis
Menurut pengacaranya, kasus tersebut sempat berjalan dengan bukti kuat slot 10k yang bisa membuat sang mantan menghadapi hukuman hingga lima tahun penjara. Namun, sebelum putusan dijatuhkan, mantan pacar Tzuyang memilih jalan ekstrem dengan mengakhiri hidupnya.
Tragedi ini membuat kasus ditutup dengan alasan “tidak ada kewenangan untuk menuntut.” Publik pun terkejut, karena meski bukti sudah jelas, keadilan tidak sepenuhnya bisa ditegakkan akibat keputusan tragis sang mantan.
Tekanan dari Sesama YouTuber
Selain masalah dengan mantan pacar, Tzuyang juga menghadapi ancaman dari kelompok kreator lain. Sebuah grup bernama Rekka Union dilaporkan memeras Tzuyang hingga jutaan won. Rekaman percakapan yang beredar menunjukkan adanya rencana untuk memaksa Tzuyang pensiun jika kasus tersebut terbongkar.
Meski Tzuyang mengaku tidak mengetahui detail ancaman tersebut karena ditangani oleh stafnya, hal ini semakin menambah beban psikologis yang ia alami. Publik melihat bahwa Tzuyang bukan hanya korban dari satu orang, tetapi juga dari ekosistem industri konten yang penuh persaingan tidak sehat.
